Saturday, February 4, 2012

Ranjau di Trotoar

[imagetag]

WELCOME TO MY THREAD


[imagetag]
:rate5Mari Rate5 Sebelum Menyimak:rate5
[imagetag]

Repost kah..?cek disini

Quote:

Jember (beritajatim.com) - Sebuah mobil Xenia menyambar orang-orang di atas trotoar di Jakarta. Darah menetes, banyak yang mati. Dan kita semua berteriak, ngeri. Tapi tahukah kita, bahwa trotoar memang tak pernah menjadi tempat yang aman bagi para pejalan kaki. Tidak hari-hari ini.

Trotoar dipenuhi ranjau-ranjau: lubang saluran air yang menganga. Bongkahan gragal dari trotoar yang retak. Juga para pedagang kaki lima.

Kamis siang itu, saya berjalan berdampingan dengan seorang anggota DPRD Jember yang terhormat. Ia memilih tak naik mobil, menyusuri Jalan Jawa: sebuah jalan di daerah kampus yang padat. Jalan kaki memang lebih sehat. Apalagi jika tempat tujuan kami tak lebih dari sekian ratus meter dari gedung parlemen.

Namun yang sehat belum tentu bikin selamat. "Memang sulit bagi kita berjalan di trotoar. Bisa-bisa kita kena tabrak mobil," anggota Dewan, teman saya itu, berseloroh.

Ia benar. Kami tak mungkin berjalan di atas trotoar. Seseorang entah sedang memperbaiki apa menutupi jalan kami. Tak jauh dari sana, ada pedagang makanan membuka lapaknya berupa tenda. Dan, kawan saya, wakil rakyat terhormat itu, pun mengeluh: sulit mengurus para pedagang di atas trotoar. Ditertibkan, mereka protes. Dibiarkan, tak ada tempat bagi para pejalan kaki.

Maka, trotoar bukan lagi trotoar, melainkan tempat kita berdebat tentang hak warga dan ekonomi. Selama bertahun-tahun, terutama selepas tumbangnya Soeharto, trotoar menjadi tempat tumbuhnya apa yang disebut oleh kelompok musik Swami sebagai 'bunga liar'. Para pedagang kecil-kecilan mendirikan lapak di sana, memancang harapan di jalanan.

Krisis ekonomi datang, dan pemerintah membiarkan ledakan populasi 'bunga liar' itu di jalanan. "Mereka adalah sektor ekonomi riil yang tangguh," kata seorang pengamat ekonomi.

"Mereka rakyat kecil yang berhak mencari nafkah, di saat banyak pemutusan hubungan kerja," kata politisi yang tengah memikat pemilih.

Lalu kita tahu, pedagang kaki lima bukan lagi pedagang dengan lapak yang hanya berukuran lima kaki. Mereka memperbesar lapak, menguasai trotoar, mengecor dan menutup bagian atas saluran air, menempatkan bangku-bangku kayu untuk para pembeli agar bisa makan enak di atasnya.

Dan, entah bagaimana, posisi lapak di atas trotoar ternyata juga dipetakan. Ada ongkos sekian ratus ribu atau bahkan lebih dari sejuta rupiah, jika seorang pedagang hendak menempati lokasi tertentu. Kepada siapa membayar? Saya ragu, uang itu masuk ke kas negara.

Kemudian datanglah masa, di mana pemerintah menganggap para PKL sudah tak sedap dipandang mata. Mereka tak sesuai dengan tata tertib kota. Tak indah. Maka penertiban dilakukan: lapak-lapak dibongkar, sebagian diangkut ke kantor Satuan Polisi Pamong Praja.

Para pedagang berteriak. Berunjukrasa. Protes. Sejumlah aktivis mahasiswa, yang sehari-hari menjadi pelanggan warung makan mereka, membawa protes ke gedung parlemen. Wakil rakyat mengangguk-angguk, sepakat. Mereka konstituen yang harus diselamatkan, atau setidaknya, calon pemilih. Maka paguyuban PKL disambangi para politisi partai, dan dibela mati-matian.

Pemerintah tak berdaya. Urusan keindahan tak sebanding dengan urusan stabilitas politik di parlemen. Penertiban dikompromikan, dan pada akhirnya, menjadi pembiaran. Bunga-bunga itu tumbuh lagi. Tak bisa dimatikan. "Bungaku, bunga liar," demikian Sawung Jabo, kompatriot Iwan Fals di Swami, bernyanyi.

Hak ekonomi, menafkahi diri sendiri, terselamatkan. Tapi siapa yang akan menyelamatkan hak para pejalan kaki itu? Para pejalan kaki yang kita tak selalu tahu nama mereka, tak ada paguyuban yang menaungi mereka. Mereka yang hanya bisa menggerutu atau menyumpah serapah kesal, karena nyaris tersambar sepeda motor yang ngebut saat kesulitan berjalan di atas trotoar.

Pada akhirnya, kita tahu, siapa yang menjadi korban di jalanan: mereka yang hanya bisa diam. Dan saya pun ragu, adakah petuah 'diam itu emas' dinyatakan oleh orang bijak yang rajin berjalan di atas trotoar.

Spoiler for PENTING:
kalo berkenan bagi :cendolbig
paling tidak cukup di :rate5 dan di koment aja
TS tidak menerima :batabig

fatur78 29 Jan, 2012

No comments:

Post a Comment