Monday, January 30, 2012

sekilas Kehidupan Orang Hong Kong

[imagetag] 
di Hong Kong. Foto diambil pekan pertama bulan Juli 2010
Malam semakin hening. Suara bis dan kendaraan lain di luar pun mulai berkurang. Aku perhatikan dari jendela kamarku, jalanan memang sudah sepi. Tapi mungkin juga karena tempat kerjaku termasuk pedesaan, sehingga tidak terlalu ramai. Berbeda dengan kawasan kota di Kowloon dan daerah-daerah di pulau Hong Kong. Misalnya Central, Causeway Bay, Admiralty dan daerah lainnya, yang merupakan pusat kota di Hong Kong. Sungguh, tak pernah mati negeri bekas jajahan kolonial Inggris ini.
Ketika aku sedang asyik dengan duniaku sendiri di kamar, tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara bel pintu. Aku langsung keluar dan kutengok dari lubang pintu, siapa gerangan yang memencet bel pintu tengah malam. Aku tidak berani langsung membuka, karena takut kalau-kalau itu orang jahat. Setelah aku intip dari lubang pintu, ternyata bosku yang besar, Kenneth Wu yang berusia 38 tahun dan masih lajang. Aku sempat kaget, karena tidak biasanya dia memencet bel dan biasanya selalu membawa kunci rumah sendiri. Setelah aku buka, dia tersenyum dan bilang terimakasih sekaligus mengatakan kalau dia lupa tidak membawa kunci rumah, lantaran tadi pagi pas berangkat kerja terlalu terburu-buru. Usut punya usut, ternyata awal mulanya karena dia telat bangun lima menit saja. Ya, itu lah orang Hong Kong. Jangankan lima menit, semenit saja, itu berakibat fatal, karena mereka sangat menghargai waktu.
"Ngo kamciu caulei sei. Caulei jito a ( tadi pagi aku hampir mati, hampir telat)," ujarnya sembari melepas sepatu di ruang tengah. "Lei, couti fen a (kamu cepet tidur)," kataku sambil berlalu dan kembali masuk kamar.
Akhirnya dia masuk kamar untuk ganti baju, kemudian cuci tangan dan langsung membuka laptop. Kenneth (begitu aku biasa memanggil, karena dia sendiri menolak untuk dipanggil tuan) bekerja di sebuah Bank Filiphina, PNB Paribas, di daerah Admiralty, tepatnya di Gedung International Finance Center (IFC). Agak jauh memang dari apartemen yang kami tinggali. Namun karena kecanggihan tehnologi transportasi, jarak jauh itu pun terasa sangat dekat tidak akan memakan waktu lama. Apalagi dengan kecanggihan kereta cepat bawah tanah, yang bisa dipastikan tidak bakalan macet.
Dia biasa bangun jam delapan pagi. Kemudian cuci muka, gosok gigi, ganti baju lalu berangkat kerja. Kira-kira hanya menghabiskan waktu 15 menit saja untuk itu. Aku sendiri tidak pernah membuatkan sarapan untuknya, karena dia lebih suka membeli roti di sekitar tempat kerjanya dan dimakan sambil jalan. Ini sudah menjadi kebiasaan orang Hong Kong, hal ini jelas akan menghemat waktu. Biasanya mereka membeli roti dan minumannya berupa susu kotak. Untuk ukuran orang Hong Kong yang pendapatan rata-rata penduduknya sebesar HK$ 11.000, jelas relatif murah.
Kemudian untuk makan siangnya, dia kadang membawa lunch box dari rumah. Sisa lauk kemarin malam yang aku masak dan dia bawa ke kantor sebagai menu makan siang. Namun ini tidak setiap hari. Jika dia ada janji makan siang bersama kawannya, dia tidak usah membawa lunch box. Dan ini berlaku untuk mayoritas orang Hong Kong, yang notabene suka berhemat. Baik mereka yang pekerja kantoran, penjual sayur, daging di pasar dan sebagainya.
Sama seperti umumnya pegawai kantoran di Hong Kong, Kenneth juga hanya bekerja dari Senin sampai Jum'at saja (lima hari kerja). Rata-rata dia berangkat pukul 8.15 dan pulang rata-rata pukul sembilan malam. Namun jika dia harus lembur, tak jarang juga dia pulang jam satu atau jam dua malam. Sampai rumah masih memegang laptop dan menyempatkan membaca buku. Terkadang jam tiga dia baru tidur dan keesokan harinya dia bangun seperti biasa jam delapan. Begitu seterusnya dan hari Sabtu jika tidak ada keperluan di kantor, dia manfaatkan waktu yang ada untuk tidur. Kadang sekali tidur sampai 13 jam, tanpa bangun sekali pun. Namun kembali lagi, waktu istirahat benar-benar dimanfaatkan untuk istirahat, sehingga tetap efektif.
Sementara bosku yang kecil dan tidak lain adalah adik dari bosku yang besar juga masih asyik di depan komputer sejak jam sebelas tadi. Dia bernama Jacka Wu, umurnya 34 tahun dan juga masih lajang. Hampir sama dengan Kenneth, namun jam kerjanya benar-benar delapan jam. Berangkat pagi dan pulang malam, karena dia mempunyai kebiasaan olahraga usai keja. Dari mulai sekedar lari, fitnes, badminton dan sebagainya.
Atau kalau ada jadwal nonton film, dia biasa nonton terlebih dulu dan baru pulang. Setelah pulang, hanya makan, istirahat sebentar, baru keluar untuk lari. Setelah itu, barulah dia berkutat dengan komputernya hingga tengah malam dan itu pun sambil dibarengi dengan membaca buku. Rutinitas tersebut ajeg setiap hari. Sama halnya Kenneth, tidur tengah malam dan bangun pagi jam delapan.
Ya, itu lah bosku dan orang mayoritas orang Hong Kong pada umunya. Kadang aku tidak habis pikir juga, tapi di satu sisi memang sudah menjadi sebuah kebiasaan. Telat waktu semenit saja, berarti hilang kesempatan. Bahkan, kadang ada yang terkena denda karena telat masuk kerja. Kita lihat saja bus, mini bus atau pun kereta cepat, sudah dijadwalkan berapa menit sekali tiba. Sehingga orang benar-benar bisa memprediksikan waktu. Perjalanan dari rumah ke tempat tujuan memakan waktu berapa lama dan menunggu kendaraan berapa lama. Misalnya saja untuk bis dan mini bus. Biasanya berangkat setiap 15 menit sekali. Jika kloter pertama sudah berangkat, itu artinya penumpang harus menunggu 15 menit lagi, baik di terminal atau pun di tempat pemberhentian bis yang diatur sedemikian rapinya. Sehingga penumpang tidak bakal takut kesasar. Karena di semua jenis transportasi, ada semacam pemandu jalan yang berbicara dalam tiga basaha. Yakni bahasa kantonis, mandarin dan terakhir bahasa Inggris. Naik bis pun, harus antre satu per satu. Begitu juga hal lainnya. Misalnya membayar belanja, membeli makanan di warung atau restauran dan sebagainya.
Ah, aku jadi berfikir. Kapan Indonesia bisa seperti itu ya? Melihat etos kerja orang di sini sungguh membuatku kagum. Dari hal kecil saja, tukang sapu di jalanan, petugas kebersihan di toilet umum dan sebagainya, mereka sama sekali tidak perlu diawasi. Jika waktunya istirahat, mereka akan istirahat sendiri dan bekerja kembali tepat waktu.
Sementara melihat negara sendiri sangat lah ngeri. Contoh kecilnya pegawai negeri kecamatan saja. Bayangkan, mereka berangkat pagi dan masih suka nongkrong ngopi, serta masuk kantor sebentar saja lalu pulang. Dan itu pun berlaku juga bagi pejabat-pejabat konsulat di Hong Kong. Buka jam 10 pagi, tapi sarapannya satu jam. Sampai kantor masih beres-beres dengan lambatnya. Tidak lama kemudian, waktu istirahat tiba. Yang seharusnya hanya satu jam menjadi dua jam, karena keasyikan ngobrol sambil makan di warung Indonesia. Kembali lagi ke kantor sudah sore dan tak lama kemudian sekitar jam lima pulang kerja. Tak heran, puluhan ribu BMI di Hong Kong mengeluhkan kinerja mereka lantaran suka membuang waktu. Mengurus paspor saja sampai seharian, sehingga tidak jarang banyak yang terkena marah majikan, karena dinilai menghabiskan waktu kerja. Ah, realitanya memang demikian


sumber : http://oase.kompas.com/read/2010/08/10/2329317/Sekilas.Kehidupan.Orang.Hong.Kong-3
[imagetag]

NURYANTO HARUN 15 Jan, 2012

No comments:

Post a Comment