Wednesday, January 11, 2012

Dahlan Iskan: Bikin Mobil Nasional Jangan Emosional

Thank you for using rssforward.com! This service has been made possible by all our customers. In order to provide a sustainable, best of the breed RSS to Email experience, we've chosen to keep this as a paid subscription service. If you are satisfied with your free trial, please sign-up today. Subscriptions without a plan would soon be removed. Thank you!
Quote:

Selasa, 10 Januari 2012 | 18:54 WIB

Dahlan Iskan: Bikin Mobil Nasional Jangan Emosional


TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan punya pendapat sendiri soal produksi mobil nasional. Menurut dia, pemerintah tak boleh latah dan terburu-buru memiliki mobil nasional tanpa didasari dengan pertimbangan matang.

Menurut Dahlan, keputusan untuk memproduksi mobil dalam negeri harus dikaji lebih dalam dalam berbagai aspek. "Harus dikaji dulu, jangan emosional," katanya dalam wawancaranya dengan sebuah stasiun televisi nasional di Jakarta, Selasa, 10 Januari 2012.

Dahlan menegaskan, produksi komersial, terutama seperti mobil nasional, tak hanya memperhitungkan aspek produksi, tapi juga pemasaran. "Kalau diproduksi, tapi tidak ada yang beli juga tidak akan bertahan," ujar Dahlan. " Kegiatan produksi juga jangan menjadi beban negara. Nilainya triliunan, jadi harus dilihat dengan seksama,"

Pun juga tak boleh tergoda, meski negara tetangga seperti Malaysia sudah melakukannya. Mobil Proton milik Malaysia, misalnya, meski terlihat baik, belum tentu secara keuntungan juga membaik. " Kita tidak tahu seperti apa keuntungan yang didapat Malaysia dari Proton" ujarnya." Apa benar Proton sudah untung? Atau bahkan sudah menghabiskan uang negara? Kita tidak tahu," katanya.

Dahlan juga mengingatkan, produksi mobil, apalagi nasional, bukan semata euforia. Momentum kepemilikan mobil nasional ini diharapkan tidak hanya memanas sekarang, tapi menguap belakangan. "Harus dihitung betul bagaimana kondisi perekonomian" ujarnya. "Jangan sampai maunya bangga, malah berujung dihina karena tidak laku di pasar," ujarnya.

Sementara itu, Wali Kota Solo Joko Widodo pada kesempatan yang sama menyampaikan dukungannya terhadap industri mobil dalam negeri. "Mimpi kita jadi industri manufaktur besar berbasis industri rumahan (home industry)," katanya.

Jokowi berpendapat semua bisa terkoordinasi dengan baik dengan dukungan dari pemerintah. Dia juga tidak ingin perbedaan pendapat ini meredupkan semangat industri rumahan ini. "Jangan sampai mematahkan semangat lah," katanya.

DINA BERINA
Quote:

Senin, 09 Januari 2012 | 22:13 WIB

Dahlan Iskan Arahkan BUMN Produsen Mobil Nasional


TEMPO.CO, Jakarta -Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan akan mengarahkan sejumlah BUMN yang dianggap strategis untuk memproduksi mobil nasional. "PT Inka, Bima, Bosma, Indra, Barata dan PT Dirgantara Indonesia saya kira cukup potensial untuk memproduksi mobil nasional," kata Dahlan di Kantor Kementerian Perekonomian, Senin 9 Januari 2011 malam.

Pernyataan ini dikemukakan Dahlan Iskan terkait dengan kemunculan mobil Kiat Esemka rakitan Siswa SMK Warga Surakarta dan Kiat Motor beberapa waktu lalu.

Ia membenarkan PT Inka akan diarahkan untuk mendukung produksi mobil nasional. Dahlan dan PT Inka akan membahas masalah tersebut pada Jumat nanti. Sebelumnya PT. Inka telah diberi mandat untuk membuat dua mobil nasional lain yaitu, GEA dan Tawon. "Saya ingin melihat prototipe-nya terlebih dahulu," ia menambahkan.

"Kalau nanti PT Inka, PT Barata, dan PT DI bergabung memproduksi mobil nasional saya kira akan kuat sekali," kata Dahlan. Menurutnya, terlalu dini membentuk BUMN baru untuk memproduksi mobil nasional. "Kami harus lihat dulu, harus dihitung nilai bisnisnya."

Ia mengingatkan agar masyarakat tak terlalu emosional dan tenggelam dalam euforia mobil nasional tanpa perhitungan matang.

Dahlan mengharapkan bangsa Indonesia tak terpancing dengan Malaysia yang sudah terlebih dahulu memiliki Proton sebagai produk mobil nasional. "Selama ini kita hanya tahu kulitnya kalau Malaysia punya Proton, kita tidak tahu persis apakah Proton disubsidi terus atau tidak," kata mantan Direktur Utama PLN ini.

Ia mengungkapkan, kalau secara komersial program mobil nasional bisa berjalan, tentu akan diteruskan. Mobil murah belum tentu akan laku. "Ini semua masih tergantung mekanisme pasar, masyarakat juga yang menentukan," mantan CEO Jawa Pos ini menjelaskan. "Kalau nanti diproduksi secara massal, masyarakat mau beli gak?"

Ia meminta harus berhati-hati dalam melakukan perhitungan bisnis terkait mobil nasional. Dahlan juga menyayangkan sikap masyarakat yang masih takut menggunakan produk lokal. "Kita masih memiliki sikap menghina diri sendiri, 'woh ini bikinan Indonesia, kita nggak mau,'" ungkapnya.

Mantan wartawan Tempo ini juga tidak takut kegagalan mobil nasional Timor pada tahun 1996 akan terulang. "Zaman sudah berbeda, mungkin situasi saat ini lebih baik," ungkapnya.

Ia tetap menyatakan dukungannya dan berharap kemunculan mobil Kiat Esemka dapat menjadi momentum kebangkitan mobil nasional. "Saya harap momentum ini harus dijaga supaya tidak cepat menguap," kata Dahlan. "Jangan sampai setelah 40 hari isunya tidak dibicarakan lagi, biasanya kan begitu."
betul pak, dihitung dulu dgn bener jgn cuma terbawa emosi..
ini kan urusan bisnis, tidak semua yg bagus itu nilai bisnis ny jg bagus, banyak faktor lain menentukan.

nicosamuel 11 Jan, 2012

No comments:

Post a Comment